by

Prof. Dicky Rezady Munaf: Sosioteknologi Menjadikan Kearifan Lokal sebagai Pelopor Revolusi Industri 5.0

BANDUNG, NAGARA.ID – Sebuah lompatan pemikiran jauh ke depan yang penuh optimisme dan lebih mengedepankan peran kearifan lokal dalam memelopori revolusi industri 5.0 di Tanah Air, bergaung di Aula Barat Institut Teknologi Bandung (ITB), Sabtu pagi, 14 Maret 2020. Yang melontarkan pemikiran itu bukan sembarang orang. Dialah Prof. Dicky Rezady Munaf, Guru Besar dalam Bidang Ilmu Sosioteknologi, yang telah banyak mencetak prestasi dan mengantongi beragam penghargaan di bidangnya.

Hari itu, lewat Orasi Ilmiah Guru Besar berjudul “Peran Sosioteknologi Untuk Menjadikan Kearifan Lokal Sebagai Salah Satu Pelopor Revolusi Industri 5.0”, Prof. Dicky secara ringkas dan terstruktur mengawali orasi ilmiahnya dengan  memaparkan hubungan kearifan lokal dan revolusi industri, termasuk revolusi industri 5.0. Dicky mengatakan, bangsa Indonesia yang sarat dengan ciptaan pernah menjadi pelopor yang mengandalkan kebiasaan masyarakat dalam menyikapi sediaan alam, seperti irigasi Subak di Bali; kearifan Sasi di Papua untuk menjaga ketersediaan potensi sumber daya alam; dan alat deteksi dini tanah longsor.

Lalu ada metode penguatan strutkur tanah secara alami dengan Chrysopogon zizanioides untuk penanggulangan longsor secara dini; serta berbagai alat musik dan candi yang tersebar di Nusantara. Kepeloporan ini bahkan sering ditiru bangsa lain seiring dengan posisi geografis Indonesia di antara dua samudera dan dua benua. Kepeloporan inilah, kata Dicky, yang harus kembali menjadi jatidiri bangsa Indonesia melalui kemampuan  mensinergikan  sejak awal dari dua jalur kelompok rumpun ilmu AFT (Ilmu Alam, Formal, Terapan) dan HS (Humaniora dan Ilmu Sosial) serta Ag (Ilmu Agama).

“Kita tetap bisa belajar dari masa lalu melalui rumpun ilmu HS serta Ag, namun pandangan kita harus futuristik, melalui rumpun Ilmu AFT, demi membangun masyarakat sejahtera dan aman agar menjadi pelopor peradaban di dunia. Di sinilah peran ilmu Sosioteknologi,” urai Dicky yang tampil pada kesempatan perdana pada acara orasi ilmiah yang dipimpin Ketua Sidang  Prof. Freddy Permana Zen tersebut. Sementara pada sesi kedua, tampil Prof. Emir Mauludi Husni, Guru Besar dalam Bidang Ilmu Computing Network on Spacecraft.

Dicky memaparkan pula bahwa sifat kepeloporan bangsa Indonesia yang telah ada sejak dulu, berubah menjadi bangsa pengguna sewaktu VOC mendarat di Banten pada 1596. Saat itu bangsa lain menerapkan rumpun ilmu AFT yang dengan mudah mendominasi bangsa Indonesia, karena mereka telah mempelajari karakteristik rumpun ilmu HS dan Ag bangsa Indonesia. Sebagai contoh, teknologi perkapalan dan persenjataan. Kapal samudera dengan layar susun dan tiang banyak serta kemudi tunggal secara mudah mengganti pola pikir pembuatan kapal bangsa Indonesia. Pengetahuan  turun temurun tidak dikombinasikan dengan produk yang baru masuk, sehingga tidak ada nilai tambah dari produk rumpun ilmu AFT yang masuk ke industri saat itu.

“Telah hilang kecakapan bangsa Indonesia yang sebelumnya sangat kaya ragamnya sebagai warisan turun-temurun yang disebut Kearifan Lokal,” kata Dicky, yang dalam menyusun orasi ilmiahnya itu sengaja menggunakan refrensi lokal sebagai bentuk penghargaan kepada karya tulis anak bangsa.

Dicky yang sangat menguasai panggung dan mampu membuat suasana menjadi cair, menambahkan bahwa Kearifan Lokal tersebut mengandung pengertian karya masyarakat adat yang dapat berupa adat budaya, karya seni, dan teknologi yang secara turun-temurun telah digunakan sejak zaman nenek moyang dan menjadi milik bersama di masyarakat adat yang dijaga dan dilestarikan. Sebagai obyek kebudayaan, ia dapat terdiri dari tradisi lisan, manuskrip, adat istiadat, ritual, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, permainan rakyat, serta olahraga tradisional.

Kearifan lokal ditemukan oleh masyarakat di lokasi  tertentu dalam mencoba dan mengintegrasikan dengan pemahaman tentang budaya dan keadaan alam setempat. Contohnya tentang pengelolaan lingkungan, benteng pertahanan, dan sebagainya. Sekali pun sempat terdistorsi dengan datangnya VOC tahun 1596, namun beberapa di antaranya sangat tahan terhadap perubahan yang diakibatkan budaya lain. “Artinya bukan tidak bisa berubah, ia berubah tanpa kehilangan identitas aslinya. Proses perubahan terkendali ini dilakukan melalui proses penyerbukan silang akalnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya,” Dicky menguraikan.

Sosioteknologi dan Nilai Tambah Pada Kearifan Lokal

Lebih lanjut Dicky menguraikan, rumpun ilmu AFT memberi kesempatan rumpun ilmu HS dan Ag untuk membangun secara konstruktif perkembangan peradaban melalui perwujudan impian manusia yang secara bersama-sama berpotensi untuk menjadikan manusia sebagai pencipta produk rumpun ilmu AFT. Sosioteknologi adalah bagian dari transdisiplin rumpun ilmu AFT dengan rumpun ilmu HS serta Ag yang mengkaji secara bersamaan dan resiprokal tentang hubungan sains, teknologi, seni, politik, serta budaya untuk kehidupan manusia melalui pemahaman yang tepat sejak awal dari nilai kemanusiaan dan pemikiran manusia.

Di sini, kata Dicky, seni menjadi sangat penting karena hanya perjalanan seni yang mampu mendidik orang untuk tidak merasa lebih benar dari orang lain. Menyitir ucapan “guru terbaik dunia” Andria Zafirakou tahun 2018, Dicky menyebut bahwa pendidikan dan keterampilan seni di kelas adalah basis mengembangkan kemampuan sosial dan tak tergantikan oleh mesin apa pun.

Berlandaskan pemahaman tersebut, maka ilmu Sosioteknologi tidak hanya menjadikan Kearifan Lokal sebagai hal yang berpotensi bagi Revolusi Industri berikutnya, tapi juga dapat mengarahkan untuk memberi nilai tambah dari Kearifan Lokal agar menjadi produk rumpun ilmu AFT yang futuristik, karena Sosioteknologi tidak mengesampingkan budaya sejak awal. Selain itu, Kearifan Lokal Nusantara yang tumbuh dari keberagaman adalah Identitas Nusantara, identitas yang mempunyai kekuatan. Keberagaman ini meliputi aspek kebiasaan, kepercayaan, etnis, dan tutur kata dari sekitar 633 kelompok suku besar.

Kearifan Lokal Sebagai Salah Satu Pelopor Revolusi Industri 5.0

Menarik untuk dicermati, era Revolusi Industri 1 sampai 4 ditandai dengan percepatan 30 tahun untuk masing-masing era (100 tahun, 70 tahun, dan 40 tahun di tahun 2018). Nah, berpijak dari sini, Dicky memprediksi pada pertengahan dekade 2020-2030 akan timbul Revolusi Industri 5.0 yang dicirikan dengan sifat mesin mempengaruhi manusia sebagaimana terjadi pada Revolusi Industri ke-1 tahun 1784, dan Revolusi Industri ke-3 tahun 1970.

Dalam pandangan Dicky, Revolusi Industri 5.0 adalah pertukaran ide, yang timbul karena masyarakat sudah hampir terpenuhi cara merealisasikan impiannya untuk kesejateraan dan keamanan dengan cara kolaborasi yang mengubah secara parsial pradigma persaingan. “Argumentasi tentang era pertukaran ide adalah berdasarkan pencermatan adanya parameter baru dalam hubungan antar-manusia, yaitu menguatnya kembali ke pola agregasi keluarga, karena kompetisi individual sudah berubah menjadi kolaborasi, dan saatnya kolaborasi mementingkan agregasi keluarga sebagai lini kekuatan dasarnya,” papar Dicky yang juga mantan Sekretaris Bakorkamla dan Sekretaris Utama Bakamla (2006-2016) serta Deputi Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila Bidang Hubungan Antar Lembaga, Sosialisasi, Komunikasi dan Jaringan (2018-2019) ini.

Dijelaskannya, Sosioteknologi yang berbasis transdisiplin, secara bersamaan mengintegrasikan sejak awal rumpun ilmu AFT dan rumpun ilmu HS, bahkan rumpun ilmu Ag, dapat merumuskan bentuk jatidiri agregasi keluarga dalam bentuk produk rumpun ilmu AFT, khususnya berupa ide yang siap dipertukarkan sebagai komoditas pendukung kehidupan antarbangsa. Nah, berlandas pada prediksi ini, bangsa Indonesia dapat menjadi pelopor dengan deposit agregasi keluarga berupa kearifan lokal, khususnya lagi, olahraga, dan peringatan dini bencana, berjumlah 418 jenis yang tersebar di seluruh Nusantara.

 Tabel 1. Jumlah 3 Jenis Kearifan Lokal di 5 Negara dengan Penduduk Terbanyak

No. Negara Luas Negara (km2) Jumlah Penduduk 2019 Jumlah 3 Jenis Kearifan Lokal (Lagu, Olahraga, Peringatan Dini Bencana Alam)
1 China 9.706.961 1.420.062.022  40
2 India 3.287.590 1.368.737.513  13
3 United States 9.372.610 329.093.110
4 Indonesia 1.904.569 269.536.480 418
5 Brazil 8.515.767 212.392.717     9

Potensi Kearifan Lokal ini, kata Dicky, merupakan sediaan ide untuk dapat dikembangkan melalui rumpun ilmu AFT serta HS mau pun Ag yang dimiliki oleh lembaga Iptek, Perguruan Tinggi, dan Balitbang. Di sini ide yang dipertukarkan harus memiliki posisi tawar yang sejajar dengan instrumen pengembangannya, paling tidak untuk pemasaran di sekitar pengetahuan lokal tersebut tersedia.

Ada pun pemahaman filosofis tentang makna lagu lokal (folklore) seperti contoh lagu Goro-gorone (menggambarkan bahwa dalam menggapai cita-cita diperlukan tahapan-tahapan) dapat menjadi bagian Pendidikan Karakter. Ide kompeherensif berupa lagu, arti filosofi, dan informasi asal lagu dapat menjadi gambaran tentang bagian kekuatan karakter bangsa Indonesia yang pada gilirannya menjamin eksistensi bangsa melalui martabat bangsa.

Demikian pula dengan olahraga tradisional, dapat digali lebih dalam tentang jenis dan arti filosofisnya agar dapat dijadikan dasar pembinaan jenis olahraga yang saat ini dipakai dalam ajang pertandingan  tingkat nasional mau pun internasional, yang pada gilirannya dapat menjadi jenis olahraga yang secara tersendiri menjadi cabang olahraga tingkat dunia seperti sepak takraw dan pencak silat.

“Diusulkan adanya penggarapan potensi olahraga engrang yang melengkapi olahraga jenis atletik. Pemilihan engrang karena mengandung unsur filosofis kemajuan dan keseimbangan. Hal penuh makna dari pembinaan jiwa sportif,” ucap Dicky, yang disambut tepuk tangan hadirin. Peraih Doctor of Philosophy bidang Matematika Teoritis University of Pittsburgh, Amerika Serikat, tahun 1990,  ini kemudian juga menjelaskan perihal peringatan dini bencana alam, serta alat musik tradisional seperti angklung.

Menurut Dicky, integrasi Kearifan Lokal sebagai ide dengan produk rumpun ilmu AFT baik secara integrasi sejak awal dengan produk rumpun ilmu AFT pada Revolusi Industri 4.0 dan rekayasa balik, diyakini akan menjadi komoditas jatidiri bangsa dalam era Pertukaran Ide yang akan mewarnai Revolusi Industri 5.0. Sebagai contoh, ia memaparkan penggunaan teknologi komunikasi kuantum yang mengolah informasi sehingga memungkinkan proses transfer data lebih efisien dan aman untuk digunakan dalam perlombaan folklore dan alat musik, olahraga mau pun peringatan dini bencana alam.

Pada bagian akhir, Dikcy mengatakan bahwa Kearifan Lokal adalah bagian dari sejarah, sehingga Kearifan Lokal adalah kekuatan yang timbul dari kebenaran. “Memahami kebenaran adalah hasrat untuk menjadi pelopor dan khsusus Indonesia  untuk era Revolusi Industri 5.0 yang dicirikan dengan pertukaran ide dengan deposit Kearifan Lokal dalam agregasi keluarga. Kekuatan Kearifan Lokal dapat secara proaktif dimasukkan ke dalam salah satu dari 9 megatrends kehidupan 2030, khususnya dalam aspek nasionalisme,” Dicky menandaskan.

Penulis: Taufik Alwie

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

18 + 5 =